Bikepacking Jakarta – Bali (4)


Tegal – Semarang

Hari ke-5

Jalur Tegal – Semarang yang saya lalui di hari ke-5 merupakan jalur terpanjang selama perjalanan ini, sekitar 155 KM, dan juga tentunya yang memakan waktu terlama, berangkat sekitar jam 7.30 pagi sampai Semarang (hotel) jam +/- 11 malam.

Screen Shot 2017-07-03 at 2.18.55 PM

Awalnya saya tidak menargetkan hari itu akan sampai Semarang, karena terlalu jauh. Bahkan awanya agak galau target hari ini akan sampai mana dikarenakan Alas Roban. Pilihan yang ada saat itu target berikutnya adalah Batang atau Kendal. Di antara kedua lokasi tersebut ada Alas Roban, jalur yang katanya cukup berbahaya. Saya tidak terlalu mengenal daerah ini, hanya dulu suka dengar-dengar cerita soal jalur Alas Roban, hampir tidak punya ingatan sama sekali karena memang baru sekali lewat jalur itu.

Target awal pokoknya tidak mau lewat Alas Roban kalau sudah gelap. Masalahnya pusat kota Kab Batang ternyata tidak pas di jalur Pantura, kalau lihat google sekitar 8an KM ke selatan dari jalur Pantura. Agak bimbang karena ‘menyia-nyiakan’ 16 KM, 8 KM hari ini dan 8 KM besoknya. Sementara itu jarak Tegal hingga jalur pantura terdekat dengan Kab Batang sekitar 75an KM. Hitungan saya dengan jarak sejauh itu mungkin akan sampai jam 3 sore. Nanggung. Namun kalau mau dilanjutkan ke Kendal sepertinya terlalu jauh juga. Batang – Kendal +/- 50 KM. Dan ditengah-tengahnya adalah Alas Roban, plus 30an KM dari Batang. Jadi Tegal-Alas Roban +/- 100an KM. Nah, dengan jarak 100 KMan agak khawatir kalau dipaksa ke Kendal ada kemungkinan akan melewati Alas Roban setelah jam 6 sore. Horor.

Dibanding terus galau akhirnya saya putuskan lihat nanti saja kalau sudah sampai Batang. Kalau bisa sampai Batang sebelum jam 3 dan dengkul ga bermasalah lagi perjalanan akan saya lanjutkan sampai Kendal.

Setelah sarapan di hotel saya memulai perjalanan. Untungnya hotel itu tidak jauh dari jalur Pantura, jadi ngesot sedikit langsung masuk jalur tersebut. Jalur Pantura Tegal pagi itu cukup sepi, jadi lumayan menyenangkan.

Sekitar 5-8 KM dari hotel tiba-tiba gear error, pindah sendiri ke gear terendah yang paling ringan, saya coba pindah-pindah ga mau, loss. Deg! Perasaan saya langsung kalut, anjrit kayaknya putus nih kabel gearnya, dan saya ga bawa cadangannya. Saya langsung melipir. Dalam hati “kayaknya cukup sampai di sini nih”, pikiran untuk mengakhiri perjalanan ini mulai muncul, karena ga mungkin saya gowes hanya dengan gear teringan, ibarat naik motor cuma pake gigi 1.

Sepeda saya standar. Shifter saya lihat-lihat, coba diutak-atik, tapi ga ngerti sama sekali. Saya bukan orang yang suka otak-atik mesin atau yang sejenisnya. Ganti atau tambal ban, ganti rem, benerin rantai yang lepas ya masih bisa lah, tapi gear sepeda…ga ngerti. Menyesal lah, kenapa sebelum berangkat ga latihan dulu bongkar-pasang gear untuk tahu cara kerjanya.

Shifter nyaris saya bongkar, tapi gagal karena lokasi murnya agak ribet. Saya coba browsing apakah ada bengkel sepeda disekitar sini…ada, tapi lumayan jauh jaraknya, lupa berapa kilo lagi, dan ga jelas sebenarnya, bengkel tersebut sudah buka atau belum, atau bahkan apakah masih ada atau ga juga ga jelas, karena datanya data beberapa tahun yang lalu.

Mulai pasrah. Namun saya ingat kata-kata bijak, dibanding menyerah lebih baik merokok. Karena dalam rokok terdapat nikotin dan tar. Ga ada hubungannya memang, tapi kenyataannya ya begitu.

Setelah rokok saya nyalakan, saya coba lihat-lihat bagian gearnya itu sendiri. Shifter saya pindah-pindahkan gigi sambil merhatikan gearnya. Kabelnya tetap bergerak, namun tidak menarik gearnya (entah apa namanya). Setelah saya perhatikan ternyata kabel giginya lepas dari cantolannya. Saya coba pasang dan kencangkan mur pengikatnya dan…berhasil. Hehehe ga jadi balik ke Jkt. Yah itu lah manfaat rokok, bisa membuat kita mengeluarkan asap dari mulut. Ga nyambung? Memang. Tapi begitu lah kenyataannya.

Perjalanan saya lanjutkan sambil berdoa semoga ga ada masalah lagi dengan sepeda ini. Oh ya, hari ini sepeda ini juga berfungsi sebagai jemuran. Kaos yang saya cuci semalam belum kering, jadi ya saya gantung di stang.

Sekitar jam 10-11an antara Pemalang dan Pekalongan tiba-tiba ada sebuah mobil pick  up hitam melewati saya dan kemudian melipir. Sang supir turun dan langsung meminta saya berhenti. Agak kaget awalnya, tapi wajahnya sepertinya baik. Akhirnya saya melipir. Mas-mas ini memperkenalkan diri, kalau ga salah namanya Sugito. Dia menduga saya sedang touring, dan dia tertarik.

Mas Gito (semoga namanya benar) cerita dia tinggal di Purwokerto, pernah niat untuk tour dengan sepeda juga, tapi ga jadi karena satu dan lain hal. Kalo ga salah menurut teman-temannya sepedanya kurang cocok untuk touring. Sepedanya sendiri sih sebenarnya sepeda mountain bike, makanya dia tertarik dengan saya karena yang saya gunakan hanya folding bike. Nanya-nanya lah dia kenapa pakai folding bike bukan sepeda roda besar dll. Ya saya jawab, punyanya ya cuma ini. Dia juga nanya mau touring sampai mana, saya jawab untuk sementara Semarang. Ya, memang saat itu belum benar-benar kepikiran untuk sampai Bali. Bahkan Surabaya aja belum.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dia menawarkan kelapa kepada saya, kebetulan ternyata dia kerjanya distributor kelapa, dari Purwokerto ke Tegal dll. Sebenarnya saya baru minum, tapi ya karena ga enak nolak akhirnya tawarannya saya terima. Setelah saya minum kelapanya kemudian dia pamit lanjut ke Purwokerto, dan saya juga lanjut jalan.

Sudah agak lupa saya dengan jalur Pemalang-Pekalongan ini, ada apa saja sepanjang jalan. Pikiran saya masih terus kepikiran soal Batang-Alas Roban-Kendal, apakah saya bisa sampai Batang sebelum jam 3, seberat apa jalur Alas Roban dll. Kadang timbul penyesalan kenapa kemarin hanya sampai Tegal, kenapa ga dipaksa aja sampai Pemalang, kalau hari ini dimulai dari Pemalang pasti sampai Alas Roban jelas sebelum jam 5 Sore. Tapi ya penyesalan selalu datang belakangan, kalau datang duluan namanya bukan penyesalan, tapi kecepetan. Ga jelas? Memang.

Kayuhan saya coba percepat, sesedikit mungkin melipir. Tapi ya dasar perokok berat, ya tiap jam tetap aja melipir, untuk ngerokok. Sementara itu Makan siang di salah satu warung nasi di Pekalongan, sekitar jam 12an. Maksi dan ngopi tentunya.

Sekitar jam 3 kurang Batang sudah mulai kelihatan batang hidungnya, jadi, saya putuskan untuk lanjut ke Kendal. Hitungan saya jalur Alas Roban bisa sebelum magrib saya lalui. Masalah selanjutnya, seberapa mendaki jalur menuju Alas Roban itu, karena kalau lihat di google maps jelas kawasan ini adalah kawasan perbukitan. Berharap semoga tidak separah jakarta-Bandung.

Di salah satu daerah yang saya pikir sudah mulai memasuki kawasan perbukitan alas roban ada tempat peristirahatan supir-supir truk. Saya putuskan untuk istirahat sebentar, cari minuman yang dingin. Banyak warung-warung di situ namun tidak ada yang ramai.

Di salah satu warung yang sepi saya melihat ada botol-botol bir, lumayan kayaknya nih panas-panas ngebir. Saya coba panggil-panggil penjualnya namun ga ada yang nongol, kayaknya lagi tidur siang orangnya Akhirnya saya putuskan masuk aja, langsung ambil birnya sendiri. Lumayan Guiness dingin.

Selesai ngebir, pas mau bayar, saya panggil-panggil lagi penjaganya, ga ada yang nongol juga. Parah nih. Ga lama ada orang yang datang, sepertinya orang situ, dia manggil-manggil ibu penjaganya, ga lama keluarlah si ibu, ternyata di belakang dan ga dengar suara saya. Setelah bayar, saya lanjutkan perjalanan.

Jalanan mulai banyak yang mendaki, beberapa kali terpaksa sepeda saya tuntun karena ga kuat menanjak. Beberapa kali beruntung bisa nempel lagi di pantat truk pas tanjakan, namun dengan jarak yang pendek-pendek.

Memasuki kawasan hutan, terjadi kemacetan yang cukup panjang. Ternyata sedang ada perbaikan jalan, pembetonan, jadi jalanan hanya bisa dilalui satu mobil. Di ujung paling depan terlihat sebuah truk, dan jalanan mendaki, cukup berat. Buru-buru saya ke arah truk tersebut, menyalip antrian mobil dan truk yang ada. Beruntung sempat sampai di truk tersebut sebelum dia jalan, lumayan dapet lagi pantat truk pas jalanan mendaki.

14026596_300102597032216_1580203998_n

Selfi di Pantat Truk – Menjelang Alas Roban

Matahari mulai meredup, namun jalur alas roban yang katanya horor belum kelihatan juga, bolak balik saya cek google map, semoga tak jauh lagi.

Sekitar jam 6 akhirnya sampai juga di jalur tersebut, ternyata ramai dan terang, di sepanjang jalan penuh warung-warung makanan. Untung lah, kirain sepi dan gelap.

Namun sampai di ujung, jalannya kembali sepi, jalur mobil. Jalur ini ternyata turunan yang cukup terjal, kecil, dan dua arah. Langit semakin meremang, namun masih cukup terang walaupun tanpa lampu jalan. Sepeda meluncur dengan sangat cepat. Awalnya senang karena bisa dapat bonus turunan lagi. Namun lama-lama agak ngeri karena banyak polisi tidur yang tidak kelihatan yang membayakan. Beberapa kali saya hampir terjatuh. Saya coba perlambat dengan menekan rem tapi ga terlalu ngaruh. Tak jarang pas kena polisi tidur yang tidak keliahatan jari kiri reflek menekan rem depan, untung ga terlalu kencang nekannya, kalo ga udah pasti terbalik dan sangat mungkin saya akan dilindas mobil dari belakang.

Setelah sekitar 5 menit kurang meluncur di turunan yang cukup curam tersebut sampai juga diujungnya. Langit semakin gelap, jalanan mulai datar kembali, azan magrib mulai berkumandang. Untung lah dalam hati saya bisa melalui jalur itu bukan pas magrib atau setelahnya.

Kendal menurut google sekitar 20an KM lagi. Yah kira-kira jam 7an lah mungkin saya bisa sampai kota itu. Sebelum sampai Kendal saya putuskan untuk makan malam dulu di sebuah rumah makan kecil. Kira-kira jam 6.30an waktu itu.

Setelah makan saya lanjutkan perjalanan. Di plang-plang penunjuk jalan tertulis Semarang +/-40an KM. Agak saya cuekin karena target saya memang bukan Semarang namun Kendal.

Sekitar jam 8 kurang akhirnya sampai di pusat kota kendal, di alun-alun. Melipir sebentar untuk browsing penginapan. Ternyata ga ada penginapan yang terdaftar di traveloka, booking.com atau sejenisnya, adanya hanya di google maps. Kebetulan salah satu hotel tersebut jaraknya ga jauh dari tempat saya melipir, ga ada 5 menit gowes lah.

Begitu sampai di hotel tersebut saya coba tanya resepsionis apakah ada kamar kosong, ternyata sudah full. Saya tanya apakah di sekitar situ ada hotel lainnya, dia bilang ada, namun kayaknya sudah full juga. Kebetulan beberapa hari ini sedang ada acara semacam pekan olah raga atau sejenisnya di Kendal, jadi katanya tempat-tempat penginapan rata-rata full book.

Agak lemas mendengarnya. Setelah chatting dengan seorang sahabat akhirnya saya putuskan untuk lanjut ke Semarang. Toh menurut google maps tinggal 30 KM lagi. Hitung-hitung bisa lah ditempuh dalam 2 jam. Tanpa pikir panjang dan tanpa nyoba hotel lainnya, sepeda langsung saya gowes menuju Semarang. Lebih cepat lebih baik pikir saya.

Tanpa lampu sepeda sama sekali saya menyusuri jalan menuju Semarang. Untung lah lampu jalan cukup terang dan ga terlalu banyak juga mobil/truk yang lewat, jadi ga terlalu khawatir akan ditabrak dari belakang. Plus untungnya cover tas warnanya kuning terang dan ada light reflectornya.

Sampai di gerbang kota Semarang sekitar jam 9.30 malam. Melipir di Indomaret tak jauh dari situ. Cek google, pusat kota nya masih sekitar 15an KM lagi. Jadi, walaupun sudah sampai Semarang namun itu baru separuh jalan.

Di indomaret ini mulai cari-cari hotel murah lagi. Akhirnya dapat di Nozz Hotel, di foto-fotonya sih lumayan, plus masih sesuai budget. Lokasi hotel tersebut 14 KM ke arah Simpang Lima. Selesai booking dan menghabiskan 2 batang rokok perjalanan saya lanjutkan.

Mengingat sudah jam 10an malam, jalanan terasa sangat sepi. Mungkin karena sudah sangat lelah dari pagi gowes, perasaan 14 KM ini seperti lebih lama dibanding 140 KM sebelumnya. Hampir tiap menit saya cek google tinggal berapa KM lagi. Dan berkurangnya cuma sedikit dari terakhir saya cek. Pokoknya begitu sampai hotel, saya akan mandi air panas dan tidur.

Jam 11an akhirnya sampai juga di hotel Nozz. Lumayan unik hotelnya. Sepeda saya lipat dan saya titip di resepsionis. Sialnya kamar saya ada di lantai 3 dan ga ada lift. Terpaksa lah naik tangga.

Masuk kamar, mandi air panas (untung ada) dan…kayaknya ngopi n ngerokok dulu enak nih. Karena tempat makan di hotel sudah tutup akhirnya jalan keluar. Ada indomaret sekitar 100an m dari hotel. Ngerokok, ngopi dan makan popmie lah di situ sampai jam 1 kurang. Sambil ngopi mulai mikir, agak gila juga hari ini, Tegal – Semarang, padahal target awalnya hanya Batang atau Kendal. Begitu cek di google maps ternyata jarak Tegal-Semarang +/- 155 KM. Total gowes (plus istirahat) hari ini +/- 16 jam. Lumayan gila.

Selesai ngopi, balik ke hotel dan tidur.

Bersambung…ke Semarang-Pati

Sebelumnya: Cirebon – Tegal

 

 

7 thoughts on “Bikepacking Jakarta – Bali (4)

  1. Pingback: Bikepacking Jakarta – Bali (3) | KRUPUKULIT

  2. Sangat inspiratif om pengalaman bikepacking nya
    Semoga saya juga bisa gowes jakarta-bali juga.

    Ditunggu next ceritanya om 😀

  3. Pingback: Bikepacking Jakarta – Bali (5) | KRUPUKULIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s