Bikepacking Jakarta-Bali (6)


Pati – Bojonegoro

Sudah agak lama saya tidak melanjutkan tulisan ini, hampir setahun sejak bagian ke 5, Semarang-Pati, dan lebih dari 2 tahun sejak pergowesan jakarta-bali saya lakukan. Semoga masih banyak yg saya ingat…

Hari ke-7

Jalur Pati-Bojonegoro ini termasuk salah satu jalur terpanjang dan salah satu jalur yang cukup berkesan selama perjalanan ini. Jarak yang saya tempuh sepanjang +/- 123 KM, berangkat sekitar jam 7.30 pagi s/d sekitar jam 8 malam.

Pati-Bojonegoro

Sekitar jam 6 pagi saya bangun tidur. Begitu nongkrong di teras tak lama kemudian pegawai hotel datang menyediakan termos, kopi bubuk, teh, gula dan …singkong kalau tidak salah. Lumayan, paling ga bisa ngopi agak beneran lagi, bukan kopi sachetan. Kenapa begitu saya nongkrong di teras tiba-tiba mas-mas hotelnya langsung ngasih seperangkat sarapan? Ya karena kamar saya kamar yang paling dekat dengan lobby hotelnya. Jadi mas-mas hotelnya bisa langsung melihat saya. Anyway, ga penting juga soal itu.

Saya cek kaos yang semalam saya cuci di jemuran di teras, ternyata belum kering. Ga masalah, nanti tinggal dijemur di stang aja selama perjalanan seperti sebelumnya, nanti juga akan kering. Saya kemudian beres-beres.

Cek google map, bikin rencana target kota berikutnya, dan lewat mana. Ada dua pilihan target kota, antara Tuban atau Bojonegoro. Tuban (kota) letaknya di pantura, jalannya pasti mulus. Tapi sayangnya jarak tempuh berikutnya, ke Surabaya, akan lebih jauh dibanding kalau target berikutnya Bojonegoro. Selisihnya lumayan, +/- 30 km.

Awalnya mau ke Bojonegoro via Blora, kalau setting googlemaps dengan pilihan jalan kaki pasti diarahkan lewat jalur tersebut. Tapi kok ya jalannya dari googlemaps ini ga kelihatan, seperti bukan jalan besar. Teringat pesan mas Syukron waktu ngobrol di Semarang, mending jangan lewat Blora, karena jalur tersebut agak rawan dan banyak hutan. Jadi khawatir, jangan2 di googlemaps ini jalur yg direkomendasikan ini cuma jalan perumahan or perkampungan. Intinya jalan kecil. Agak males juga kalau jalannya jalan kecil, biasanya jalanannya kurang bagus. Pikir-pikir akhirnya saya putuskan tetap ke bojonegoro bukan Tuban, tapi via Rembang. Dari Rembang baru turun ke arah selatan. Pilihan jalur di googlemap pun saya set.

Sekitar jam 7.30 saya mulai perjalan. Agak lupa apakah pagi itu saya mandi dulu atau tidak. Kayaknya sih ga. Entah lah, udah agak lama, dan ga penting juga, toh nanti juga akan bau lagi.

Dari hotel Rama ini ternyata jalan menuju jalur utama menuju Rembang tidak terlalu jauh. Srusut sedikit langsung sampai jalan utama, tinggal lurus saja menuju Rembang. Setelah gowes sekitar 5 km baru ingat, kaos yang semalam saya cuci lupa saya bawa. Sial. Padahal kaos yang itu lumayan enak bahannya untuk gowes. Mau balik lagi males. Yo wes direlakan untuk mas-mas hotelnya.

Jalan menuju Rembang lumayan sepi, ga seramai Semarang-Pati. Kiri-kanan jalan masih banyak sawah. Agak lupa pagi itu saya sarapan dimana selain kopi dan snack di hotel. Agak yakin saya sarapan lagi pagi itu, karena biasanya sekitar jam 10an saya akan cari makan. Kayaknya antara di sebuah warung nasi pas setelah sebuah jembatan atau sebuah warung nasi yang lumayan bersih di pinggir jalan. Dua hal yang masih saya ingat sepanjang jalan menuju Rembang, banyak bebek yang berenang di kali di pinggir jalan, dan seorang ibu-ibu yang dengan santainya buang hajat di kali kecil pas pinggir jalan.

Kondisi rumah-rumah di sepanjang jalan yang saya lalui sepertinya bukan rumah-rumah yang bisa dibilang miskin. Umumnya bukan rumah kayu, dan sudah berdinding batu dan berlantai keramik. Agak kaget pada saat melewati jembatan kecil yang melewati kali yang lebarnya sekitar 2 meter, airnya bersih, bening, cetek, yang dalamnya mungkin ga lebih dari 10 cm, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu dengan santainya jongkok di tengah kali tersebut menghadap ke jalan. Pas saya melintas jembatan tersebut dan menengok ke arah ibu-ibu tersebut yang jaraknya tak lebih dari 3 meter dari saya, mata kami saling berpas-pasan. Dia menatap saya tanpa dengan tatapan yang agak santai, sementara saya langsung buang pandangan ke tempat lain. Agak shock. Di samping2 kali tersebut kondisi rumahnya cukup bagus, agak heran juga kalau di dalamnya ga ada wc. Segitu kebeletnya? Mukanya sih tadi agak santai. Atau mungkin emang hobi boker di kali, ga perlu nyiram lagi. Entah.

Sekitar jam 11an sampailah di Rembang, pusat kotanya. Mampir sebentar ke Pantai Kartini. Pantai ini lumayan ramai walaupun bukan hari libur dan siang hari. Tapi sepertinya pantai ini bukan pantai untuk berenang, ga ada pinggiran yang agak landai, hampir semua pinggirannya beton. Tapi entah lah, saya juga ga terlalu memperhatikan.

 

Setelah -entah ngopi, minum coca cola, atau es kelapa, lupa- dan beberapa batang rokok, perjalanan saya lanjutkan. Cek google map dalam beberapa km ke depan saya harus belok kanan, ambil jalur menuju Bojonegoro.

Tak berapa setelah mulai jalan, sepeda mulai berasa ga enak, entah rantai, gear atau bottom bracket mulai bunyi krinyit-krinyit. Mulai agak khawatir, jangan sampai ada masalah lagi dengan sepeda.

Kira-kira setengah jam kemudian tibalah di sebuah pertigaan, lurus ke arah Tuban, kanan kalau di google map mengarah ke Bojonegoro. Tanpa ragu jalur kanan saya ambil. Jalannya mulai mengecil, sepi dan lumayan terik. Kiri-kanan sawah, kadang ada pohon kadang ga. Kondisi jalan lumayan jelek, seperti jalanan aspal yang udah 10 tahun ga pernah diperbarui, ga rusak-rusak amat, cuma sudah ga alus dan krikil-krikilnya mulai menonjol. Mulai ngedumel sendiri. Sepeda krinyit-krinyit, jalanan ga asik jadi ga bisa terlalu cepat, dan panas. Mulai agak menyesal, kenapa ga terus aja lewat pantura-Tuban, walaupun sedikit lebih jauh minimal jalannya alus dan banyak truk yang lewat yang bisa ditempelin. Jalur ini sangat jarang mobil yang lewat, karena jalurnya sempit, mungkin hanya cukup dua mobil yang ngepas.

Semakin lama dikayuh krinyit-krinyit semakin kencang. Semakin ngeri. Bagaimana kalau tiba-tiba bottom bracketnya rusak? Mana mungkin di daerah pedesaan ini ada bengkel sepeda? Mulai kepikiran untuk balik arah lagi, tapi udah kepalang tanggung, sayang beberapa km terbuang. Galau. Sepeda saya gowes terus, tapi pikiran untuk balik arah juga jalan terus.

Setelah hampir setengah jam melewati daerah persawahan, akhirnya ketemu juga daerah permukiman. Lumayan agak adem karena banyak pohon. Dan minimal pemandangannya agak berubah sedikit, ga cuma sawah lagi, tapi rumah-rumah. Ada kehidupan. Setelah lewat sebuah tanjakan tiba-tiba…bengkel sepeda! Lebih tepatnya tukang tambal ban sepeda sih. Gubuk kecil beralaskan tanah dengan beberapa peralatan tambal ban. Sepeda langsung saya parkir. Yang dipikiran saya bottom bracketnya ini kayaknya butuh gemuk, mungkin karena pengaruh perjalanan yang cukup panjang. Tapi agak ragu juga tukang tambal ban ini bisa menyelesaikan masalah sepeda ini.

Dengan tidak terlalu banyak berharap saya ketok-ketok gubuk itu, tak berapa lama muncul bapak-bapak. Setelah saya ceritakan masalah sepeda saya dia mulai lihat-lihat kondisinya. Tak berapa lama dia mulai ngomong …”ah kayaknya kurang oli rantainya ini mas, tuh udah kering”. Agak kaget dan sedikit malu, kaget karena cepat banget keringnya ini rantai, padahal pas sebelum berangkat dari Jakarta rantai sudah saya semprot dengan oli rantai. Dan itu belum ada seminggu. Malu, karena…kok ya berhari-hari rantai ini ga pernah saya perhatikan.

20160820_111425

Setelah dioles-oles dengan oli bekas yang lumayan banyak (agak kebanyakan kayaknya) dan dikayuh-kayuh agar merata (sepeda saya digantung dengan tali) suara krinyit-krinyitnya mulai hilang. Bener ternyata, masalahnya hanya soal oli rantai. Syukurlah. Setelah bayar (kalau ga salah saya kasih 20.000, bapaknya sih bilang ga usah, tapi bapak itu ga tau betapa leganya saya karena olesan oli bekasnya itu) siap-siap melanjutkan perjalanan lagi.

Tas pannier mulai saya pasang lagi, tapi ternyata mur cantolannya hilang, kacau. Tanpa mur ini cantolannya akan miring dan akan membuat cantolan yang satu lagi juga akan mengendur murnya dan lama-lama akan lepas. Untung di depan bengkel ini ada tali rafia bekas, untuk sementara tas saya ikat dulu pake tali rafia, dan mur sisanya saya kencangkan.

Perjalanan saya lanjutkan. Jalanan ternyata mengarah ke kawasan hutan jati dan lumayan banyak tanjakan. Kondisi jalan juga ternyata bukannya tambah baik malah tambah buruk. Banyak lubang di sana-sini. Udah banyak tanjakan banyak bolong-bolong pula.

Kurang lebih 30 menitan sejak dari bengkel saya menemukan sebuah rumah makan. Mampir dulu untuk makan siang. Rumah makannya agak mirip dengan warteg di Jakarta, hanya lebih sepi. Mungkin karena memang jalanan ini agak sepi.

Selesai makan dan ngerokok perjalanan saya lanjutkan. Jalanan lumayan naik turun. Untungnya selang beberapa lama dapet pantat truk lagi. Tapi baru sekitar kurang lebih 2 km-an tiba-tiba di depan truk ini berhenti, macet. Ternyata ada acara di sebuah SMA, karnaval 17an. Lumayan lucu juga karnavalnya, seperti pesta topeng. Yang menarik banyak siswa yang berdandan ala setan. Yang paling horor tapi lucu itu banyak yang dandan seperti pocong. Ada seorang siswa berdandan ala pocong dan dia hanya berdiri di tengah jalan. Diam. Mirip pocong beneran.

Awalnya saya pikir karnaval ini akan mulai jalan dan jalanan bisa kembali bergerak, tapi setelah hampir 5 menit ternyata ga mulai-mulai juga. Khawatir telat akhirnya saya memutuskan untuk lanjut saja, nyelip-nyelip di pinggir jalan di antara pengunjung karnaval yang lumayan rame.

Setelah agak lengang sepeda saya naikin kembali. Panjang kerumunan mungkin hampir 1 km. Sepeda saya gowes di antara pawai yang sudah mulai berjalan. Mau foto-foto entah kenapa agak males. Agak males juga moto pawai yang isinya rata-rata horor-horor, kalau ga pocong, kunting anak atau tuyul.

Setelah melewati karnaval ini jalanan lumayan sepi, hampir tidak ada kendaraan yang lewat kecuali motor. Mungkin karena kendaraan-kendaraan tersebut pada tertahan karnaval. Selain itu jalanan ini juga lagi diperbaiki, dibeton. Gak jarang saya sendirian di jalanan ini sejauh mata memandang, baik ke arah depan maupun belakang. Untung masih siang.

Sekitar jam 2.30 sampai di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Kabupaten Tuban. Di daerah ini ternyata ada 2 karnaval mirip dengan karnaval sebelumnya. Dan hampir sama dengan yang sebelumnya banyak yang berdandan ala pocong, kuntilanak, dan tuyul.

Bolak balik cek googlemaps, Bojonegoro masih lumayan jauh, agak khawatir sampai sana malam dan lebih khawatir lagi harus merasakan bergelap-gelap ria di jalanan yang sepi ini, di tengah hutan jati, sendirian. Mana sepeda ga ada lampu pula.

Sekitar jam 4.30an mulai masuk daerah pedesaan dan persawahan. Alhamdulillah. Semoga setelah ini sudah ga ada hutan jati lagi. Di pinggir-pinggir jalan banyak kedai-kedai yang ada botol-botol aqua berisi air putih seperti air tanakan nasi. Mampir di sebuah kedai yang jual kelapa muda. Di dalam kedai ini ada 2 orang warga yang lagi nongkrong sambil minum air putih mirip air beras itu. Saya pesan es kelapa 1. Ga lama saya tanya sama kedua orang itu apa minuman putih yang mereka minum. Di jawab “Legen namanya mas, dari air enau (atau aren?) bagus untuk kesehatan kalau dikit. Kalau banyak bisa mabok hehe”. Hmmm…kayaknya menarik. Saya pesan segelas deh.

20160820_154924.jpg

Legen ini lumayan rasanya, agak manis dan sedikit beralkohol. Mungkin di bawah 10%. Setelah minum kelapa muda plus nyoba legen ini kemudian saya bayar. Kelapa muda (sebatok) dan Legen ini Total 17 ribu. Saya tanya rinciannya…kelapa 7 ribu, legen 10 ribu. Setelah bayar si ibu penjualnya ngasih saya sebotol aqua besar legen, sisanya katanya. Waks! Ternyata 10 ribu itu sebotol bukan segelas. Mau bawa tapi ya kok agak ngeberatin, akhirnya saya kasih ke kedua mas-mas yang lagi nongkrong di kedai tersebut.

Perjalanan saya lanjutkan. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 4.30an. Cek googlemaps, masih lumayan jauh. Berharap masih bisa masuk kota sebelum magrib, atau minimal rute berikutnya sudah tidak ada hutan jati lagi. Kalau masih agak repot, selain agak horor juga sepeda ini ga ada lampunya.

Sampai jam 5.30an jalur yang saya lewati masih lumayan, pedesaan bukan hutan jati. Matahari sudah mulai tenggelam, remang-remang. Jalanan sudah mulai sepi, hanya sesekali motor yang lewat. Mobil? Jarang banget.

…dan akhirnya mulai gelap. Waktu mulai menunjukan jam 6 lewat. Dalam hati ngedumel, kenapa siang pake berhenti ngeliatin karnaval? Jalanan hampir tidak kelihatan. Kiri kanan pohon-pohon lebat, dan hampir tidak ada rumah lagi. Jarang-jarang lah ada rumah. Entah berapa jauh lagi kawasan hutan ini akan berakhir.

Dari kejauhan terlihat ada lampu, akhirnya ada perumahan. Gowesan agak saya kebut. Agak horor jalanan ini, gelap dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Mungkin karena habis magrib.

Sinar lampu semakin dekat, bohlam kuning. Posisinya di sebelah kiri jalan. Begitu dekat…ternyata kuburan! Sial! Magrib-magrib pula. Dalam hati mencoba menenangkan diri, kalo ada kuburan berarti sudah dekat dengan perumahan. Amiiin!

Untungnya benar. Sekitar lima menit kemudian mulai masuk kawasan perumahan, bye-bye hutan. Waktu menunjukan jam 7an. Cek googlemaps Bojonegoro sekitar 20an KM lagi. Jalanan tetap sepi tapi sudah lumayan terang.

Sekitar jam 8 akhirnya masuk kota Bojonegoro. Cari tukang nasi goreng dan mulai googling penginapan. Seperti biasa, cek yang agak murah. Akhirnya dapat, Singgasana Hotel, agak lupa berapa tapi kurang dari 150 ribu lah. Selesai makan langsung menuju hotel. Tempatnya luas tapi agak sepi. Parkirannya luas seperti parkiran bis-bis. Bentuk hotelnya seperti kos-kosan. Untungnya hotel ini lumayan bersih. Sepeda saya masukan ke dalam kamar (dapat kamar di lantai dasar). Mandi, ngerokok, ngopi, dan tidur.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s