21 Mei 1998

Kaki saya terasa seperti ada yang menendang-nendang. Ternyata benar. Iwank senior angkatan FHUI 93 membangunkan saya di ruang senat dengan menendang-nendang kaki saya. Entah sudah jam berapa pagi itu. Saya tak sendirian di ruang senat FHUI, ada beberapa teman yang juga tidur di ruang itu. Kami menginap di kampus setelah malam sebelumnya pulang dari gedung MPR/DPR.

“Udah punya presiden baru loe.” Kalimat yang masih terngiang-ngiang hingga hari ini yang keluar dari mulut Iwank. Dan itu adalah kalimat yang pertama kali terucap dari mulutnya setelah melihat saya terbangun. Atau setidaknya itu kalimat pertama yang saya dengar. Tak ada perasaan gembira, hanya hampa. Entah. Saya langsung menuju ruang Mahalum, tak jauh dari ruang Senat, untuk melihat apa yang terjadi di TV. Soeharto benar-benar mundur, atau lengser ke perabon dalam bahasanya. Hanya sekilas saya melihat tontonan tersebut, selanjutnya kembali hampa.

Sebagian besar teman-teman yang juga selama itu aktif dalam aksi-aksi juga terlihat bingung. Tak ada teriakan-teriakan kegembiraan. Entah. Semua terjadi begitu cepat, Continue reading

13 Mei 98

Sedikit catatan saya tentang peristiwa di tanggal 13 Mei 1998. Catatan ini dibuat sekedar untuk dokumentasi semata, sebelum lupa dari ingatan, khususnya ingatan saya sendiri. Terdapat beberapa detil peristiwa yang akan saya ekslporasi lebih jauh dalam lain kesempatan.

Catatan ini dibuat di dua tahun yang berbeda. Setengah saya tulis mei tahun lalu (2010), dan setengahnya lagi mei tahun ini (2011). Bukan, saya bukan aktivis 98, hanya mahasiswa yang kebetulan suka ikut aksi. Dan saya tidak sendiri, ada puluhan ribu mahasiswa lainnya yang juga ikut aksi pada tahun 1998.

Pagi itu sekitar jam 5.30 kamar kost saya digedor-gedor oleh seseorang. Kantuk masih sangat terasa karena sebelumnya (dan setiap malam) baru tidur sekitar jam 2-3 pagi. Ketika horden saya buka saya tak bisa melihat siapa yang menggedor pintu, hanya sebuah sosok hitam yang menyatu dengan remangnya pagi di Kukusan Teknik. Setelah pintu saya buka saya baru sadar, ternyata dia adalah Abdul Qodir, teman seangkatan saya di FHUI. Orangnya memang hitam legam, jadi wajar jika saya sebelumnya tak bisa melihat wajahnya.

Continue reading